| |
|
|
|
||||||||||||||||||||||||||
| Beranda | Kontak | |
|||||||||||||||||||||||||||
| |
|||||||||||||||||||||||||||||
| |
|||||||||||||||||||||||||||||
| |
|||||||||||||||||||||||||||||
| |
|||||||||||||||||||||||||||||
| |
|||||||||||||||||||||||||||||
| |
|||||||||||||||||||||||||||||
| |
|||||||||||||||||||||||||||||
| |
|||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||
PEMIMPIN BERFATWA RAKYAT MENANGIS *) Seolah-olah judul diatas merupakan hal yang di dramatisir oleh penulis, namun fakta yang yang terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat merupakan hal yang benar, apabila memaknai judul tersebut. Dimana kebijakan-kebijakan pemerintah sekarang ini semakin jauh dengan apa yang diinginkan rakyat, tengok dan tanyakan kepada masyarakat betapa harga-harga kebutuhan dasar semakin tidak terkendali bahkan hampir tidak dapat terbeli oleh kalangan masyarakat menengah kebawah, belum lagi pemerintah mengeluarkan kebijakan anggaran pendidikan yang sampai hari ini mengkhianati amanat UUD 1945 yakni 20% dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Diperparah lagi dengan semakin sulit dan mahalnya kebutuhan minyak dan gas bagi masyarakat kecil, bahkan gossip jalanan yang muncul adalah “ sudah mahal antri pula ”. Saya masih ingat saat kampanye pemilu 2004 yang lalu, para calon-calon pemimpin bangsa ini berkampanye bagaimana mereka menyuarakan empatinya terhadap bangsanya, terhadap masyarakat kecil atau lebih populer disebut wong cilik. Mulai dari jual janji anak dan pendidikan, sampai memberikan perhatian terhadap kebijakan-kebijakan yang tidak menyengsarakan dan tidak membuat rakyat menangis, dimana calon-calon pemimpin bangsa mengumbar nafsu janji pendidikan untuk semua, kesehatan untuk semua, keadilan untuk semua, dan kesejahteraan untuk semua, baik itu masyarakat miskin, maupun kaya, masyarakat dari suku antahbranta sampai masyarakat suku dunia lain. Seiiring dengan berjalannya waktu dan hampir 63 tahun Indonesia telah merdeka, sampai hari ini masyarakat sudah sering di khianati dan di bohongi oleh para pemimpinnya. Bagaimana tidak, janji-janji politik saat kampanye Pemilihan Umum yang selalu memberikan angin segar dan harapan bagi perubahan masyarakatnya menuju pada kesejahteraan sosial untuk semua rakyat ternyata hanya janji belaka yang mudah dilupakan oleh pemimpin bangsa ini setelah mereka duduk di kursi kekuasaannya. Fenomena masalah-masalah sosial yang muncul dalam kehidupan masyarakat semakin hari semakin membuat akal sehat kita tidak bisa menerima apa yang terjadi saat ini, namun ternyata hanya orang-orang jauh dari kekuasaan yang masih mempunyai hati nurani dan akal sehat untuk selalu peduli pada apa yang dirasakan oleh masyarakat banyak, wong cilik, rakyat kecil, maupun rakyat jelata. Berbanding jauh dengan orang-orang yang menikmati kekuasaannya, lihat saja kaum elite bangsa kita, mereka hanya berebut bagaimana kantongnya terus menebal sehingga bisa membangun “ kerajaan ” kecilnya, pelesir ke luar negeri, hidup mewah dan hedonis, ataupun berjuang untuk pribadi dengan atas nama konstituennya. Pada dasarnya kalau elite bangsa ini mau jujur dan selalu ingat dengan apa yang diembannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yakni berpikir, berjuang dan bekerja demi kesejahteraan dan keadilan sosial untuk semua tanpa diskriminasi, bangsa ini akan menjadi besar dan gemah ripah loh jinawi untuk semua bangsa. Dengan berbagai persoalan bangsa yang muncul dan terjadi akhir-akhir ini hanya bisa diselesaikan dengan memegang prinsip kejujuran nurani dan berjuang dengan berpegang pada amanat rakyat dan cita-cita pendiri bangsa ini. Ambisi golongan, kekuasaan, dan jabatan haruslah di buang ke tong sampah ketika menjadi pemimpin bangsa ini, tidak ada lagi kata demi partai, untuk golongan, dan kesejahteraan pribadi. Namun harus dan wajib berpikir, berjuang dan bekerja, demi rakyat, untuk rakyat, dan kesejahteraan serta keadilan untuk semua tanpa memandang partai, ras, suku, maupun golongan. Janganlah lagi berdusta pada masyarakat dengan mengatasnamakan rakyat, saatlah hari ini, esok hari, dan di masa datang bangsa Indonesia menuju pada bangsa yang sejahtera, beradab, berkeadilan untuk semua, dan mampu menghadapi perkembangan teknologi, serta menghapus segala bentuk penindasan atas hak dasar manusia. Jadikanlah bangsa ini menuju pada negara sejahtera ( welfare state ), dengan berpijak pada:
Oleh karenanya, jangan adalagi fatwa pemimpin bangsa ini yang menyengsarakan rakyat, namun buatlah fatwa pemimpin yang membuar rakyat tersenyum, rakyat bahagia, dan rakyat adil dan sejahtera untuk semua bangsa Indonesia tanpa diskriminasi. *) WILFUN AFNAN, S.Sos ARTIKEL LAIN : |
|
|
|||||||||||||||||||||||||||
| |
|
||||||||||||||||||||||||||||
| |
|||||||||||||||||||||||||||||
| |
|||||||||||||||||||||||||||||
| |
|||||||||||||||||||||||||||||
| |
|||||||||||||||||||||||||||||
| |
|||||||||||||||||||||||||||||
| |
|||||||||||||||||||||||||||||
| |
|||||||||||||||||||||||||||||
| |
|||||||||||||||||||||||||||||
| |
|||||||||||||||||||||||||||||
| 2007
© Lembaga Kesejahteraan Sosial Indonesia designed by ckmandiri |
Beranda | Profil | Program | Artikel | Donasi | Berita | Link | Kontak | |
|||||||||||||||||||||||||||
| |
|
||||||||||||||||||||||||||||
| |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||||||