Beranda
Kontak

 

ANDAI AKU JADI PEMIMPIN (Ah… masak sich)

Oleh. Fafan

Capek dech ” itulah kalimat pertama kali yang keluar dari mulut si Rokhim saat meratapi nasib bangsanya. Meskipun dia adalah seorang pengayuh becak, namun dia juga selalu memikirkan masa depan bangsanya. Maklumlah, selain dia adalah anak seorang pejuang kemerdekaan di tahun 1939-an dia juga gemar membaca buku-buku biografi tokoh-tokoh Nasionalis, Revolusioner, Religius, sampai Marxist, juga dia sering terlibat pada diskursus dan pembelaan terhadap masyarakat yang terpinggirkan. Hanya nasibnya yang jelek, meskipun dia lulusan sarjana, dikarenakan idealismenya yang tinggi, banyak perusahaan, instansi swasta dan pemerintah menolak dia karena takut akan pikiran kritisnya yang selalu berontak ketika melihat ketimpangan, maupun ketidak adilan yang muncul dikehidupannya.

Saat menjelang petang menyelimuti desanya, Rokhim berpikir, gimana kalau aku saja yang jadi pemimpin bangsa ini untuk dapat mendobrak dan melawan kedzaliman, ketidak adilan, biaya pendidikan yang semakin tak terjangkau, diskriminasi, korupsi, pemiskinan rakyat, liberalisme ekonomi dan lain-lain yang sudah menggurita di negeri ini. Pikiran ini muncul disaat banyak hal yang membuat dia marah, kesal, “ gila ” dan merasa tidak bisa berbuat apa disaat banyak rakyat kecil meratapi nasib, bangsa dan negaranya yang carut marut dan semakin hari bukannya masyarakat kecil sejahtera, namun sebaliknya semakin hari beban hidup masyarakat kecil semakin mencekik leher. Karena selama ini yang dia harapkan setiap ada pergantian pemimpin adalah adanya perbaikan kehidupan bagi masyarakat kecil di negeri yang kaya akan potensi alamnya dan sumber-sumber ekonomi lainnya yang seharusnya dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat tanpa diskriminasi. Dengan terus berkecamuk berbagai macam pikiran untuk berontak terhadap pemimpin negeri ini yang telah menyengsarakan rakyatnya sendiri, dia melangkah keluar rumah untuk berkumpul dengan komunitasnya, kebetulan dia di mengorganisir komunitas pengayuh becak dengan nama Kelompok Pengembangan Potensi Pengayuh Becak, dan dipercaya sebagai coordinator. Dengan semangat kebersamaan dalam perbedaan itulah, dia menggalang persatuan komunitas becak yang beragam karakternya. Dan membangun kerangka berpikir kritis bagi rekan-rekannya untuk terus menyuarakan ketidakadilan yang dilakukan rezim terhadap mereka.

Berbagai persoalan yang membelit bangsanya, terus berkecamuk dalam hati dan jiwanya yang terus menyuarakan perlawanan terhadap ketidak jujuran yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa ini baik di tingkat legislative, eksekutif, maupun yudikatif. Seiring dengan terus terusiknya hati dan jiwanya atas keresahan bangsa ini di sampaikan kepada teman-temanya juga mimpinya untuk memimpin negeri ini, namun oleh teman-temannya hanya ditertawain dan malah bertanya hartamu itu berapa untuk menyuap para elite partai…..

Akhirnya dia melangkahkan kaki balik ke rumah dengan memendam semua celotehan teman-temannya, dan ia tetap bertekad akan terus melawan ketidakadilan social yang masih terjadi di lingkungan sekitar dan lingkungan bangsa secara luas. Berbagai khayalan dan impian yang coba di rengkuh dalam mimpinya digoreskan pada buku catatan yang selalu menjadi sahabat sejatinya untuk berbagi persoalan yang ada di seputar kehidupannya. Ada beberapa hal yang menjadi cita dan angannya andai dia menjadi seorang pemimpin, yang disebutnya sebagai Deklarasi Untuk Rakyat Indonesia :

  1. Memperkuat Unit Usaha Kecil yang berbasih rumah tangga (home Industri);
  2. Melakukan transparansi penggunaan anggaran pendidikan yang sebesar 20% dari total APBN
  3. memberikan subsidi 70% dari untuk pupuk dan kebutuhan produksi lahan pertanian rakyat;
  4. Menyelesaikan persoalan korban lumpur panas di Sidoarjo dengan mengedepankan kearifan lokal dan kebutuhan dasar masyarakat korban;
  5. menyeret ke pengadilan kepada pihak-pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung terhadap tragedi lumpur panas di Sidoarjo untuk mendapatkan hukuman akibat kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya;
  6. Menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing yang tidak memberikan keuntungan bagi rakyat Indonesia dan menutup perusahaan yang merusak lingkungan;
  7. Menurunkan harga BBM dan kebutuhan dasar rakyat agar terjangkau oleh daya beli masyarakat kecil;
  8. Menerapkan hukuman mati bagi para koruptor tanpa diskriminasi;

Sebelum dia menutup buku kecilnya, dalam alinea terakhir diatulisakan sebuah kalimat sederhana yang penuh renungan, tanya dan canda ” Siapa Yang Mau Pilih Saya, Lha Wong Saya Ga Punya Modal Untuk Membeli Kepercayaan ”Dan setelah sura hati dan nuraninya dituangkan di sahabat sejatinya, Rohim pu terlelap tidur dengan membawa mimpinya ke alam tidurnya yang hanya di temani suara-suara binatang malam.

ARTIKEL LAIN :

 

Jl. Langgar No. 23 Kramat Jati
Jakarta Timur 13510 INDONESIA
Telp. 62 21 93724133
Fax. 62 21 7407758
Chat :
 
JOIN MAILIST
Kesejahteraan Sosial Indonesia
 
 
 
 
 
 
2007 © Lembaga Kesejahteraan Sosial Indonesia
designed by ckmandiri
Beranda | Profil | Program | Artikel | Donasi | Berita | Link | Kontak